Minggu, 25 November 2012

Menembus Ruang dan Waktu


          Menembus ruang dan waktu dalam hal ini adalah mengalami perubahan atau melakukan perubahan. Untuk melakukan perubahan ini diperlukan suatu pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri. Maka kita perlu untuk mempelajari filsafat. Dalam mempelajari filsafat, haruslah secara intensif dan ekstensif. Intensif artinya dalam sedalam dalamnya sedangkan ekstensif artinya luas selua luasnya. Maka dari itu dalam mempelajari filsafat dibutuhkan referensi, dalam hal ini adalah pikiran para filsuf, apa yang mereka katakan dalam hubungannya dengan pikiran-pikiran kita.  Apa yang kita pikirkan dengan dukungan dari pemikiran para filsuf ini kemudian kita refleksikan dalam kehidupan sehari-hari hal inilah merupakan upaya kita dalam menembus ruang dan waktu.
            Mengenai subjek yang menembus ruang dan waktu adalah diri kita sendiri atau diri orang lain. Menurut Immanuek Kant waktu dibagi ke dalam tiga dimensi, yaitu waktu yang berurutan, waktu yang berkelanjutan dan waktu yang berkesatuan. Berkesatuan artinya tidak dapat dibagi-bagi atau menjadi satuan yang utuh. Sedangkan pengertian ruang secara teori ada ruang dimensi nol, dimensi satu, dimensi dua dan seterusnya. Artinya secara teori ruang dapat didefinisikan seperti bilangan. Untuk menembus ruang dan waktu kita perlu mengetahui apa itu ruang dan apa itu waktu. Sedangkan untuk mengetahui ruang kita perlu mengetahui apa itu waktu dan begitu pula sebaliknya.  Kita dapat mempelajari ruang dan waktu karena pada hakikatnya ruang dan waktu ada dalam pikiran kita.
            Ruang meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ruang terdiri dari wadah dan isi. Jika tidak ada wadah maka tidak akan ada isi begitu pula sebaliknya. Ruang memiliki empat dimensi yaitu material, formal, normatif dan spiritual. Ruang material adalah yang berbentuk konkret dan fisik. Contohnya dalam ruang diri kita materialnya adalah tubuh kita. Sedangkan formal adalah yang bersifat resmi, atau yang tertulis. Maka diri kita adalah apa yang tertulis di identitas kita. Normatif adalah ilmunya, sehingga orang yang berilmu adalah orang yang sopan santun terhadap ruang dan waktu. Artinya dapat menempatkan diri. Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika adalah orang yang sopan santun terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Santun berarti mengerti, menghayati, mengamlkan kmudian merefleksikan. Spiritual adalah doa-doa yang kita panjatkan.
            Ruang dan waktu kita saat ini dalah berada dalam dunia kaum kapitalis. Kaum kapitalis membuat hirarki ruang yaitu ruang archaed, tribal, tradisional, feodal, modern, postmodern dan post-postmodern. Dalam menjadi orang yang berilmu kita menempatkan spiritual dalam hirarki yang paling tinggi. Di sisi lain kita menghadapi gejolak dunia akibat pengaruh dari kaum “the power now” dimana mereka menciptakan ruang kapitalis, pragmatisme, utilitarian dan hedonisme.
Kapitalis adalah menempatkan ekonomi dalam hirarki yang paling tinggi,  artinya segala sesuatu diukur dari keberhasilan ekonomi. Jadi orang yang menganut kapitalis akan berusaha untuk mengejar keberhasilan ekonominya. Pragmatisme adalah yang menghendaki segala sesuatu itu secara cept dan praktis. Utilitarian adalah yang menganut bahwa apa yang terbaik adalah yang berguna bagi mereka tanpa melihat kegunaan untuk orang lain, jadi prinsip kegunaannya adalah sepihak. Hedonisme adalah yang sangat mengagungkan kesenangan dunia. Segala yang dilakukan hanya untuk mengejar kesenangan dunia. Dunia yang diciptakan “power now” menempatkan spiritual dalam hirarki ketiga yaitu pada hirarki tradisional.
Ada beberapa hal penting dalam menembus ruang dan waktu yaitu:
1.      Fenomenologi
Fenomenologi adalah karya cipta dari HUSSERL. Ada dua unsur penting yaitu abstraksi dan idealisme. Abstraksi adalah memilih atau melakukan reduksi. Manusia kodratnya adalah abstraksi karena sejak lahir manusia telah terpilih. Hidup adalah pilihan karena sebenar-benrnya manusia adalah reduksi karena manusia tidak bisa tidak memilih. Dalam melakukan reduksi ada hal-hal yang tereliminasi dan yang tidak dipikirkan oleh HUSSERL dimasukkan dalam suatu wadah yang dinamakan “rumah epoke”.
2.      Fondasionalisme
Semua makhluk beragama adalah kaum fondasionalisme, menempatkan Tuhan sebagai causa prima yaitu sebab utama dan sebab pertama. Dalam kehidupan sehari-hari orang yang membangun keluarga adalah sedang menjadi kaum fondasionalisme. Hakikat manusia adalah kaum fondasionalisme namun karena keterbatasannya manusia tidak bisa menjadi fondasionalisme sepenuhnya, karena dalam kenyataannya manusia melakukan segala sesuatu dengan intuisi.
3.      Antifondasionalisme
Dalam hal ini manusia bertindak sebagai fondasionalisme namun sekaligus sebagai antifondasionalisme.
            Menembus ruang dan waktu adalah melakukan perubahan untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari keadaan sekarang. Dalam upaya menembus ruang dan waktu ini kita mendapatkn tantangan berupa dunia yang diciptakan oleh “power now” yang telah menguasai gejolak dunia. Untuk itu kita perlu menyiasatinya dengan tetap menempatkan spiritual ke dalam hirarki yang tertinggi. Ketiga hal penting dalam menembus ruang dan waktu yang telah dijelaskan sebelumnya harus benar-benar dipahami dengan baik tanpa meninggalkan spiritual dalam hirarki tertinggi. Dengan upaya yang disertai dengan doa semoga kita diberikan petunjuk agar dapat menembus ruang dan waktu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar